LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI
(Uji Urine)
Pembimbing :
Yuni Rahmawati
Kelompok :
1.
Ari Alfiani (06)
2.
Hikmah Farda Awaliyah (09)
3.
Moh. Husein (15)
4.
Nisa’ Rahmaningtyas P. (21)
5.
Nur Albania Arshanty (22)
6.
Putri Rida Lestari (24)
SMAN 1 SIDAYU
Jl. PahlawanNo.06 Sidayu Gresik Telp/Fax. (031) 3949011
TAHUN PELAJARAN 2011/2012
KATA PENGANTAR
Syukur
Alhamdulillah, kami haturkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kami mampu menyelesaikan tugas membuat laporan ini.
Sholawat
serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Seorang revolusioner
akbar, atas jasanya yang agung kepada umat manusia dalam membimbing manusia
dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang benderang yakni Dinul Islam.
Laporan yang berjudul “Uji
Urine” ini kami susun untuk memenuhi persyaratan mata pelajaran Biologi.
Dalam
penyelesaian laporan ini penulis menerima bantuan dari orang lain baik langsung
maupun tidak langsung oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada :
1.
Arif Suswanto,
S.Pd, M.Pd . selaku Kepala SMA Negeri 1 Sidayu.
2.
Nurotul
Madichah, S. Si selaku wali kelas kami.
3.
Yuni Rahmawati
selaku pembimbing.
4.
Seluruh keluarga
dan teman-teman yang membantu dengan ketulusan dan lapang dada.
Akhirnya tiada gading yang tak retak. Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu kami sangat menantikan saran dan kritik yang membangun.
Semoga laporan ini berguna bagi penulis sendiri maupun pembaca.
Sidayu, 19 Februari 2012
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman Judul
Hal
Kata Pengantar
.................................................................................................................i
Daftar
Isi............................................................................................................................ii
Dasar
Teori........................................................................................................................iii
BAB I : Tujuan..........................................................................................1
BAB II : Alat dan Bahan............................................................................1
BAB III : Langkah
Kerja.............................................................................2
BAB IV : Hasil Pengamatan........................................................................3
BAB V :
Evaluasi.........................................................................................4
BAB VI : Kesimpulan...................................................................................10
Lampiran-lampiran............................................................................................................12
DASAR TEORI
Urin atau air seni atau
air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian
akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin
diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh
ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Dalam mempertahankan homeostasis
tubuh peranan urin sangat penting, karena sebagian pembuangan cairan oleh tubuh
adalah melalui sekresi urin. Selain urin juga terdapat mekanisme berkeringat
dan juga rasa haus yang kesemuanya bekerja sama dalam mempertahankan
homeostasis ini.
Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau
obat-obatan dari dalam tubuh.Anggapan umum menganggap urin sebagai zat yang
“kotor”. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urin tersebut berasal dari ginjal
atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinnyapun akan mengandung bakteri. Namun jika urin berasal dari ginjal dan
saluran kencing yang sehat, secara medis urin sebenarnya cukup steril dan
hampir tidak berbau ketika keluar dari tubuh. Hanya saja, beberapa saat setelah
meninggalkan tubuh, bakteri akan mengkontaminasi urin dan mengubah zat-zat di
dalam urin dan menghasilkan bau yang khas, terutama bau amonia yang dihasilkan
dari urea.
Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme
(seperti urea), garam terlarut, dan materi
organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan
interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika
molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh
melalui molekul pembawa.
Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan
berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar
tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis,
yaitu suatu metode analisis zat-zat yang dimungkinkan terkandung di dalam urin.
Urin atau
air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang
kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi
urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang
disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan
tubuh. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung
kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra.
Proses
pembentukan urine melalui serangkaian proses yaitu filtrasi, reabsorpsi dan
augmentasi yang terjadi pada nefron. Filtrasi (penyaringan), hal ini terjadi di
glomerulus. Sifat filtrasi ini tidak selektif, sehingga semua plasma dan
komponennya yang berukuran kecil seperti air, urea, asam amino, keratin,
glukosa, dan vitamin dapat melewati proses filtrasi. Hasil proses filtrasi ini
disebut filtrate glomerulus atau urine primer.
Proses
reabsorpsi, terjadi pada tubulus kontortus proksimal, lengkung Henle, tubulus
kontortus distal. Tujuan reabsorpsi adalah menyerap kembali zat-zat yang masih
dibutuhkan tubuh, seperti glukosa, air, asam amino, vitamin, ion-ion Na+,
K+, Cl-. Di dalam tubulus kontortus distal juga terjadi
augmentasi dari ion K+, H+ dan amonia. Duktus kolektivus
membawa filtrate dari tubulus distal menuju pelvis renalis ginjal. Pada tubulus
ini terjadi reabsorpsi NaCl secara aktif. Demikian juga terjadi reabsorpsi air.
Hasil proses yang terjadi pada tubulus kolektivus menghasilkan urine sekunder,
yang kemudian dikeluarkan ke pelvis renalis.
1. Rata-rata
dalam satu hari 1-2 liter, tapi berbeda-beda sesuai dengan jumlah cairan yang
masuk.
2. Warnanya
bening oranye tanpa ada endapan.
3. Baunya
tajam.
4. Kadar
gula dibawah 1%.
5. Tidak
mengandung protein dan sel darah merah.
6.
Normal
urine terang dan transparan. Urine dapat menjadi keruh karena ada mukus atau
pus.
7. Normal pH urine sedikit asam (4,5 - 7,5)
1.
Kuning jernih, urin berwarna kuning
jernih merupakan pertanda bahwa tubuh anda sehat. Urin ini tidak berbau. Hanya
saja, beberapa saat setelah meninggalkan tubuh, bakteri akan mengontaminasi
urin dan mengubah zat dalam urin sehingga menimbulkan bau yang khas.
2.
Kuning tua atau pekat, warna ini
disebabkan karena tubuh mengalami kekurangan cairan. Namun, bila terjadi terus,
merupakan tahap awal penyakit liver.
3.
Kemerahan, ini berarti urin
mengandung darah. Kondisi ini bisa menandakan gangguan batu ginjal dan kandung
kemih. Namun, bisa juga karena mengkonsumsi obat pencahar secara berlebihan.
4.
Kecoklatan, pertanda terjadi
kerusakan otot, akibat aktivitas tubuh yang berlebihan.
5.
Oranye, mengindikasikan penyakit
hepatitis atau malaria. Pyridium, antibiotic yang biasa digunakan untuk infeksi
kandung kemih dan saluran kencing juga dapat mengubah warna urin menjadi
oranye.
Selain
melalui warna kita dapat mendeteksi penyakit melalui bau urin. Misalnya pada
penderita diabetes dan busung lapar, urin cenderung berbau manis, sementara
jika seseorang mengalami infeksi bakteri E. coli, urinnya cenderung berbau
menyengat.
UJI URINE
I.
TUJUAN
ü Untuk
mengetahui kandungan zat dalam urine
ü Mengetahui
bau, pH, klorida, glikosa dan protein dalam urine
ü Untuk
mengetahui/mendeteksi indikasi penyakit yang diderita seseorang berdasarkan
urine
ü Untuk
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi urine
II. ALAT DAN BAHAN
ü Alat
:
o Tabung
reaksi 3 buah
o Rak
tabung reaksi
o Penjepit
tabung reaksi
o Gelas
Ukur
o Pipet
tetes
o Pembakar
spiritus
o Korek
api
ü Bahan
:
o Urine
o Larutan
Biuret
o Larutan
Benedict (Fehling A dan Fehling B)
o Larutan
AgNo3
o pH
III. LANGKAH
KERJA
a.
Mengetahui bau amonia
dari hasil penguraian urea dalam urine
1.
Masukkan urine ke dalam
tabung reaksi dengan menggunakan pipet tetes
2.
Jepitlah tabung reaksi
tersebut dengan penjepit tabung reaksi
3.
Panasakan tabung reaksi
tersebut dengan pembakar spiritus
4.
Amati bau urine yang
telah dipanaskan tesebut
5.
Catat hasilnya ke dalam
tabel pengamatan
b. Mengukur
pH urin
1.
Teteskan urine
menggunakan pipet tetes di atas kertas indikator pH universal
2.
Amati perubahan
warnanya
3.
Cocokkan warna dengan
standart pH
4.
Catat hasilnya ke dalam
tabel pengamatan
c.
Mengenal kandungan
klorida dalam urine
1.
Masukkan urine ke dalam
tabung rekasi dengan menggunakan pipet tetes
2.
Tambahkan larutan AgNO3
3.
Amati perubahan warna
yang terjadi
4.
Catat ke dalam tabel
pengamatan
d.
Uji Glukosa dalam Urine
1.
Masukkan urine ke dalam
tabung reaksi dengan menggunakan pipet tetes
2.
Tambahkan larutan
Benedict atau larutan Fehling A dan Fehling B
3.
Jepit tabung reaksi
dengan penjepit
4.
Panaskan tabung reaksi
tersebut di atas pembakar spiritus
5.
Amati perubahan warna
yang terjadi, lalu catat hasilnya ke dalam tabel pengamatan
e.
Uji protein
1.
Masukkan urine ke dalam
tabung reaksi dengan menggunakan pipet tetes
2.
Tambahkan larutan
biuret
3.
Amati perubahan warna
yang terjadi
4.
Catat hasilnya ke dalam
tabel pengamatan
IV. HASIL
PENGAMATAN
|
No.
|
Uji
|
Perlakuan
|
Perubahan Warna (Hasil)
|
Keterangan
|
|
1.
|
Bau
|
Dipanaskan
dengan pembakar spiritus
|
Orange
|
Berbau
pesing
|
|
2.
|
pH
|
Meneteskan
urine di atas kertas indikator PH universal
|
pH
5
|
Bersifat
asam
|
|
3.
|
Klorida
|
Ditetesi
larutan AgNo3, lalu diamati perubahan warnanya
|
Putih
susu/putih pekat
|
Mengandung
klorida, terdapat endapan
|
|
4.
|
Glukosa
|
Ditetesi
larutan Benedict (larutan Fehling A dan Fehling B), lalu dipanaskan dengan
pembakar spiritus. Amati perubahan warnanya
|
Hijau
tua
|
Mengandung
glukosa
|
|
5.
|
Protein
|
Ditetesi
dengan larutan biuret, lalu amati perubahan warnanya
|
Biru
kehijauan
|
Tidak
mengandung protein
|
V.
EVALUASI
1.
Mengapa
urine berbau menyengat? Jelaskan!
Jawab :
Karena urine mengandung asam dan zat-zat
lain yang berupa sisa-sisa metabolisme dalam tubuh, oleh karena itu urine pasti
berbau. Itu disebabkan karena urin tersier (urin yang dikeluarkan setelah
melalui proses filtrasi dan reabsorpsi di ginjal) mengandung:
o
Urea
o
Garam-garam
o
Mineral
o
Vitamin
o
Air
o
Amoniak
o
Kreatinin
o
Natrium
o
Urobilin
(zat pewarna urin)
Penyebab urin berbau pesing karena ada amoniak serta kreatinin (zat yg mengandung kapur) sehingga membuat urin berbau pesing. Urin mengandung urea yang bila dihidrolisis (di laboratorium) atau terhidrolisis (di kamar mandi) akan terurai menjadi amonia.
CO(NH2)2 + H2O -> CO2 + 2NH3
Jadi pada dasarnya urea, CO(NH2)2 yang terkandung dalam urin terurai menjadi amonia, NH3 jika ada air, H2O. Pemanasan akan mempercepat reaksi ini. \
Namun
kurangnya
minum dan dehidrasi adalah penyebab paling umum untuk bau urine yang menyengat.
Adapun factor lain yang menyebabkan urin berbau menyengat adalah :
a.
Infeksi saluran kemih,
alasan lain urine berbau tak sedap adalah infeksi saluran kemih. Setiap wanita
mengalami infeksi saluran kemih setidaknya sekali seumur hidup. Kondisi ini
cukup mudah didiagnosa dan diobati.
b.
Infeksi vagina, infeksi
vagina juga bisa menjadi penyebab bau menyengat pada urine. Sebenarnya bau yang
tidak sedap tersebut berasal dari vagina. Jadi seringkali urine yang berbau
tidak sedap disertai dengan rasa terbakar dan gatal pada vagina.
c.
Obat atau makanan, kadang-kadang
makanan atau obat-obatan tertentu bertanggung jawab untuk bau urine yang tidak
sedap. Misalnya, asparagus, jengkol atau petai adalah salah satu makanan yang
menyebabkan bau busuk pada urin
2.
Bagaimana
kadar keasaman urine? Jelaskan!
Jawab :
Kadar
keasaman urine bisa dilihat/diukur dengan pH urin tersebut. Urine normal
berkisar antara 4,8 – 7,5. Urine akan menjadi lebih asam jika mengkonsumsi
banyak protein, dan urine akan menjadi lebih basa jika mengkonsumsi banyak
sayuran.
3.
Mengapa
terdapat endapan putih pada urine yang diuji? Jelaskan!
Jawab :
Karena
pada saat urine diteteskan AgNO3. Urine yang semula berwarna kuning
berubah menjadi putih keruh. Pada dasar tabung reaksi juga terdapat endapan
tipis. Sehingga dapat dikatakan urine mengandung klorida dan masih termasuk
dalam jumlah normal. Persamaan reaksinya :
4. Apakah urine yang kamu uji terdapat
indikasi penyakit? Jelaskan!
Jawab :
Iya,
tapi lemah.
Pada
hasil penelitian yang telah kami lakukan dalam uji kandungan protein dalam
urine, tidak terdapat/ditemukan kandungan protein. Urine yang ditetesi biuret
tidak mengalami perubahan warna menjadi ungu, melainkan biru kehijauan. Hal itu
mengindikasikan bahwa tidak terdapat protein pada urine yang mengindikasikan
penyakit.
Namun
dalam uji kandungan glukosa pada urine, urine yang ditetesi Larutan Benedict
(Larutan Fehling A dan Fehling B) berubah warna menjadi hijau. Perubahan urine
menjadi warna hijau menunjukkan adanya kadar glukosa pada urine yang rendah.
Hal itu menunjukkan bahwa urine yang kita uji dapat terindikasi penyakit
diabetes melitus tetapi kemungkinan sangat lemah.
5.
Bila
urine terdapat protein, ada indikasi penyakit apa? Jelaskan!
Jawab :
Bila
terdapat protein pada urine, maka dapat diindikasi penyakit albuminuria, yakni
penyakit yang ditandai dengan adanya albumin (protein) dalam urine yang
disebabkan gangguan dalam proses filtrasi protein (albumin) oleh ginjal.
Namun
berdasarkan hasil penelitian, diperoleh hasil bahwa sampel urine tidak
mengandung protein. Hal ini terbukti ketika mengamati warna urin setelah
ditetesi biuret. Sampel tidak menunjukan perubahan warna menjadi ungu. Hal ini
menunjukan bahwa tidak terdapat kerusakan glomerulus pada ginjal pemilik sampel
tersebut.
6.
Bila
urine terdapat glukosa, ada indikasi penyakit apa? Jelaskan!
Jawab :
Kandungan
glukosa dalam urine menunjukkan bahawa ada penyakit diabetes militus (kencing
manis). Urin seorang penderita diabetes akan mengandung gula yang tidak akan
ditemukan dalam urine orang yang sehat. Terdapatnya glukosa dalam urine
tersebut menyebabkan menurunnya hormon insulin yang dihasilkan oleh prankeas.
Menurunnya hormon insulin menyebab terganggunya proses perombakan glikogen
menjadi glukosa dan reabsorpsi glukosa dalam glomelurus.
![]() |
7.
Mengapa
bila suhu dingin kita lebih banyak kencing, dan bila suhu panas banyak
keringat? Jelaskan!
Jawab :
Pada
saat udara panas, suhu tubuh tentunya meningkat. Untuk menurunkan suhu tubuh,
maka tubuh mengeluarkan air lewat pori-pori kulit beserta panas tubuh
(keringat) untuk menurunkan suhu tubuh sekaligus mengeluarkan zat-zat sisa.
Karena pengeluaran air lewat keringat, kita jadi tidak udah buang air kecil
untuk mengeluarkannya.
Pada
saat udara dingin, pori-pori kulit menutup sehingga panas tubuh tidak keluar.
Maka pengeluaran air pun lebih banyak dilakukan lewat buang air kecil. Makanya
jumlah air kencing kita lebih banyak daripada biasanya atau buang air lebih
sering
8.
Jelaskan
hubungan hormon ADH dengan penyakit poliurea dan oligourea!
Jawab :
Hormon
ADH berpengaruh pada jumlah volume urin yang dikeluarkan. Jika hormon ADH dalam
tubuh sedikit maka jumlah volume urin yang dikeluarkan sedikit sehingga
menimbulkan penyakit oliguria. Sedangkan jika jumlah hormon ADH dalam tubuh
banyak maka jumlah volume urin banyak, jika terlalu banyak maka menimbulkan
penyakit poliuria.
9.
Jelaskan
faktor-faktor yang mempengaruhi produksi urine!
Jawab :
a. Hormon
Antidiuretik (ADH))
Hormon ini dihsilkan
oleh kelenjar hipofisis bagian belakang. Jika darah sedikit mengandung air,
maka ADH akan banyak disekresikan ke dalam ginjal, akibatnya penyerapan air
meningkat sehingga urin yang terjadi pekat dan jumlahnya sedikit.
Sebaliknya, apabila
darah banyak mengandung air, maka ADH yang disekresikan kedalam ginjal
berkurang, akibatnya penyerapan air berkurang pula, sehingga urin yang terjadi
akan encer dan jumlah banyak.
b. Jumlah
air yang diminum
Jumlah air yang diminum
tentu akan mempengaruhi konsentrasi air dalam darah. Jika kita meminum banyak
air, konsentrasi air dalam darah menjadi tinggi, dan konsentrasi protein dalam
darah menurun, sehingga filtrasi menjadi berkurang.
Selain itu, keadaan
seperti ini menyebabkan darah lebih encer, sehingga sekresi ADH akan berkurang.
Menurunnya filtrasi dan berkurangnya ADH akan menyebabkan menurunnya penyerapan
air, sehingga urin yang dihasilkan akan meningkat damn encer.
c. Jumlah
garam yang dikeluarkan dari darah
Supaya tekanan osmotik
tetap, semakiin banyak konsumsi garam
maka pengeluaran urin semakin banyak.
d. Hormon
Insulin
Hormon insulin adalah
hormon yang dikeluarkan oleh pulau Langerhans dalam pangkreas. Hormon insulin
berfungsi mengatur gula dalam darah. Penderita kencing manis (diabetes melitus)
memiliki konsentrasi hormon insulin yang rendah, sehingga kadar gula dalam
darah akan tinggi. Akibat dari keadaan tersebut adalah terjadi gangguan
reabsorpsi di dalam tubulus distal, sehingga dalam urin masih terdapat glukosa.
e. Suhu
Lingkungan
Ketika suhu sekitar
dingin, maka tubuh akan berusaha untuk menjaga suhunya dengan mengurangi jumlah
darah yang mengalir ke kulit sehingga darah akan lebih banyak yang menuju organ
tubuh, diantaranya ginjal. apabila darah yang menuju ginjal jumlahnya semakin
banyak, maka pengeluaran air kencingpun banyak.
f. Gejolak
emosi dan stress
Jika seseorang
mengalami stress, biasanya tekanan darahnya akan meningkatsehingga banyak darah
yang menuju ginjal. Selain itu, pada saat orang berada di dalam kondisi emosi,
maka kandung kemih akan kontraksi. Dengan demikian, maka timbullah hasrat ingin
buang air kecil.
g. Minuman
alkohol dan kafein
Alkohol dapat
menghambat pembentukan hormon antidiuretika. Coba ingat kembali fungsi hormon
ini. Seseorang yang banyak minum alkohol dan kafein, maka jumlah air kencingnya
akan meningkat.
VI. KESIMPULAN
1.
Urine berbau menyengat
(pesing) karena ada amoniak serta kreatinin (zat yg mengandung kapur) sehingga
membuat urin berbau pesing. Urin mengandung urea yang bila dihidrolisis (di
lab) atau terhidrolisis (di kamar mandi) akan terurai menjadi amonia.
CO(NH2)2 + H2O -> CO2 + 2NH3
2.
Kadar keasaman urin
bisa dilihat/diukur dengan pH urin tersebut. Urin normal berkisar antara 4,8 –
7,5.
3.
Jika urine diteteskan
AgNO3. Urin yang semula berwarna kuning berubah menjadi putih keruh
serta terdapat endapan tipis. Sehingga dapat dikatakan urin tersebut mengandung
klorida dan masih termasuk dalam jumlah normal.
4.
Adanya kandungan
protein dalam urine menunjukkan bahwa adanya indikasi penyakit albuminuria,
yakni penyakit yang ditandai dengan adanya album (protein) dalam urine yang
disebabkan gangguan dalam proses filtrasi protein (albumin) oleh ginjal.
5.
Adanya kandungan glukosa
dalam urine menunjukkan bahwa adanya indikasi penyakit diabetes militus
(kencing manis).
6.
Pada saat udara panas,
suhu tubuh tentunya meningkat. Untuk menurunkan suhu tubuh, maka tubuh
mengeluarkan air lewat pori-pori kulit beserta panas tubuh (keringat) untuk
menurunkan suhu tubuh sekaligus mengeluarkan zat-zat sisa. Sedangkan pada saat
udara dingin, pori-pori kulit menutup sehingga panas tubuh tidak keluar. Maka
pengeluaran air pun lebih banyak dilakukan lewat buang air kecil. Makanya
jumlah air kencing kita lebih banyak dari pada biasanya atau buang air lebih
sering.
7.
Hormon ADH berpengaruh
pada jumlah volume urin yang dikeluarkan. Jika hormon ADH dalam tubuh sedikit
maka jumlah volume urin yang dikeluarkan sedikit sehingga menimbulkan penyakit
oliguria. Sedangkan jika jumlah hormon ADH dalam tubuh banyak maka jumlah
volume urin banyak, jika terlalu banyak maka menimbulkan penyakit poliuria.
8.
Adapun faktor-faktor
yang mempengaruhi produksi urine adalah hormon antidiuretik (ADH)), jumlah air
yang diminum, jumlah garam yang dikeluarkan dari darah, hormon insulin, suhu lingkungan,
gejolak emosi dan stress, dan minuman alkohol dan kafein.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar