Senin, 11 Februari 2013

Uji Urine



LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI

(Uji Urine)





Pembimbing :
Yuni Rahmawati
Kelompok :
1.    Ari Alfiani                            (06)
2.    Hikmah Farda Awaliyah      (09)
3.    Moh. Husein                        (15)
4.    Nisa’ Rahmaningtyas P.      (21)
5.    Nur Albania Arshanty          (22)
6.    Putri Rida Lestari                (24)

SMAN 1 SIDAYU
Jl. PahlawanNo.06 Sidayu Gresik Telp/Fax. (031) 3949011
TAHUN PELAJARAN 2011/2012


KATA PENGANTAR

            Syukur Alhamdulillah, kami haturkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami mampu menyelesaikan tugas membuat laporan ini.
            Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Seorang revolusioner akbar, atas jasanya yang agung kepada umat manusia dalam membimbing manusia dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang benderang yakni Dinul Islam.
            Laporan yang berjudul “Uji Urine” ini kami susun untuk memenuhi persyaratan mata pelajaran Biologi.
            Dalam penyelesaian laporan ini penulis menerima bantuan dari orang lain baik langsung maupun tidak langsung oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada :
1.      Arif Suswanto, S.Pd, M.Pd . selaku Kepala SMA Negeri 1 Sidayu.
2.      Nurotul Madichah, S. Si selaku wali kelas kami.
3.      Yuni Rahmawati selaku pembimbing.
4.      Seluruh keluarga dan teman-teman yang membantu dengan ketulusan dan lapang dada.

Akhirnya tiada gading yang tak retak. Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kami sangat menantikan saran dan kritik yang membangun. Semoga laporan ini berguna bagi penulis sendiri maupun pembaca.

Sidayu, 19 Februari 2012
Penulis




DAFTAR ISI

Halaman Judul                                                                                                           Hal
Kata Pengantar .................................................................................................................i
Daftar Isi............................................................................................................................ii
Dasar Teori........................................................................................................................iii
                                                                
BAB I                         : Tujuan..........................................................................................1

BAB II                        : Alat dan Bahan............................................................................1

BAB III                      : Langkah Kerja.............................................................................2
                                                                                               
BAB IV                      : Hasil Pengamatan........................................................................3

BAB V                        : Evaluasi.........................................................................................4

BAB VI                      : Kesimpulan...................................................................................10

Lampiran-lampiran............................................................................................................12



DASAR TEORI

Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Dalam mempertahankan homeostasis tubuh peranan urin sangat penting, karena sebagian pembuangan cairan oleh tubuh adalah melalui sekresi urin. Selain urin juga terdapat mekanisme berkeringat dan juga rasa haus yang kesemuanya bekerja sama dalam mempertahankan homeostasis ini.
Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-obatan dari dalam tubuh.Anggapan umum menganggap urin sebagai zat yang “kotor”. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urin tersebut berasal dari ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinnyapun akan mengandung bakteri. Namun jika urin berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat, secara medis urin sebenarnya cukup steril dan hampir tidak berbau ketika keluar dari tubuh. Hanya saja, beberapa saat setelah meninggalkan tubuh, bakteri akan mengkontaminasi urin dan mengubah zat-zat di dalam urin dan menghasilkan bau yang khas, terutama bau amonia yang dihasilkan dari urea.
Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa.
Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis, yaitu suatu metode analisis zat-zat yang dimungkinkan terkandung di dalam urin.
Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra.
Proses pembentukan urine melalui serangkaian proses yaitu filtrasi, reabsorpsi dan augmentasi yang terjadi pada nefron. Filtrasi (penyaringan), hal ini terjadi di glomerulus. Sifat filtrasi ini tidak selektif, sehingga semua plasma dan komponennya yang berukuran kecil seperti air, urea, asam amino, keratin, glukosa, dan vitamin dapat melewati proses filtrasi. Hasil proses filtrasi ini disebut filtrate glomerulus atau urine primer.
Proses reabsorpsi, terjadi pada tubulus kontortus proksimal, lengkung Henle, tubulus kontortus distal. Tujuan reabsorpsi adalah menyerap kembali zat-zat yang masih dibutuhkan tubuh, seperti glukosa, air, asam amino, vitamin, ion-ion Na+, K+, Cl-. Di dalam tubulus kontortus distal juga terjadi augmentasi dari ion K+, H+ dan amonia. Duktus kolektivus membawa filtrate dari tubulus distal menuju pelvis renalis ginjal. Pada tubulus ini terjadi reabsorpsi NaCl secara aktif. Demikian juga terjadi reabsorpsi air. Hasil proses yang terjadi pada tubulus kolektivus menghasilkan urine sekunder, yang kemudian dikeluarkan ke pelvis renalis.

*   Ciri-Ciri Urine Normal :
1.      Rata-rata dalam satu hari 1-2 liter, tapi berbeda-beda sesuai dengan jumlah cairan yang masuk.
2.      Warnanya bening oranye tanpa ada endapan.
3.      Baunya tajam.
4.      Kadar gula dibawah 1%.
5.      Tidak mengandung protein dan sel darah merah.
6.      Normal urine terang dan transparan. Urine dapat menjadi keruh karena ada mukus atau pus.
7.      Normal pH urine sedikit asam (4,5 - 7,5)


*   Dari urine kita dapat mengetahui berbagai penyakit memalui perubahan warnanya.
1.    Kuning jernih, urin berwarna kuning jernih merupakan pertanda bahwa tubuh anda sehat. Urin ini tidak berbau. Hanya saja, beberapa saat setelah meninggalkan tubuh, bakteri akan mengontaminasi urin dan mengubah zat dalam urin sehingga menimbulkan bau yang khas.
2.    Kuning tua atau pekat, warna ini disebabkan karena tubuh mengalami kekurangan cairan. Namun, bila terjadi terus, merupakan tahap awal penyakit liver.
3.    Kemerahan, ini berarti urin mengandung darah. Kondisi ini bisa menandakan gangguan batu ginjal dan kandung kemih. Namun, bisa juga karena mengkonsumsi obat pencahar secara berlebihan.
4.    Kecoklatan, pertanda terjadi kerusakan otot, akibat aktivitas tubuh yang berlebihan.
5.    Oranye, mengindikasikan penyakit hepatitis atau malaria. Pyridium, antibiotic yang biasa digunakan untuk infeksi kandung kemih dan saluran kencing juga dapat mengubah warna urin menjadi oranye.
Selain melalui warna kita dapat mendeteksi penyakit melalui bau urin. Misalnya pada penderita diabetes dan busung lapar, urin cenderung berbau manis, sementara jika seseorang mengalami infeksi bakteri E. coli, urinnya cenderung berbau menyengat.

UJI URINE

I.    TUJUAN
ü Untuk mengetahui kandungan zat dalam urine
ü Mengetahui bau, pH, klorida, glikosa dan protein dalam urine
ü Untuk mengetahui/mendeteksi indikasi penyakit yang diderita seseorang berdasarkan urine
ü Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi urine


II. ALAT DAN BAHAN
ü Alat :
o  Tabung reaksi 3 buah
o  Rak tabung reaksi
o  Penjepit tabung reaksi
o  Gelas Ukur
o  Pipet tetes
o  Pembakar spiritus
o  Korek api

ü Bahan :
o  Urine
o  Larutan Biuret
o  Larutan Benedict (Fehling A dan Fehling B)
o  Larutan AgNo3
o  pH






III.   LANGKAH KERJA

a.    Mengetahui bau amonia dari hasil penguraian urea dalam urine
1.      Masukkan urine ke dalam tabung reaksi dengan menggunakan pipet tetes
2.      Jepitlah tabung reaksi tersebut dengan penjepit tabung reaksi
3.      Panasakan tabung reaksi tersebut dengan pembakar spiritus
4.      Amati bau urine yang telah dipanaskan tesebut
5.      Catat hasilnya ke dalam tabel pengamatan

b.      Mengukur pH urin
1.    Teteskan urine menggunakan pipet tetes di atas kertas indikator pH universal
2.    Amati perubahan warnanya
3.    Cocokkan warna dengan standart pH
4.    Catat hasilnya ke dalam tabel pengamatan

c.    Mengenal kandungan klorida dalam urine
1.    Masukkan urine ke dalam tabung rekasi dengan menggunakan pipet tetes
2.    Tambahkan larutan AgNO3
3.    Amati perubahan warna yang terjadi
4.    Catat ke dalam tabel pengamatan

d.   Uji Glukosa dalam Urine
1.      Masukkan urine ke dalam tabung reaksi dengan menggunakan pipet tetes
2.      Tambahkan larutan Benedict atau larutan Fehling A dan Fehling B
3.      Jepit tabung reaksi dengan penjepit
4.      Panaskan tabung reaksi tersebut di atas pembakar spiritus
5.      Amati perubahan warna yang terjadi, lalu catat hasilnya ke dalam tabel pengamatan

e.    Uji protein
1.    Masukkan urine ke dalam tabung reaksi dengan menggunakan pipet tetes
2.    Tambahkan larutan biuret
3.    Amati perubahan warna yang terjadi
4.    Catat hasilnya ke dalam tabel pengamatan
IV.   HASIL PENGAMATAN


No.

Uji

Perlakuan

Perubahan Warna (Hasil)

Keterangan
1.
Bau
Dipanaskan dengan pembakar spiritus
Orange
Berbau pesing
2.
pH
Meneteskan urine di atas kertas indikator PH universal
pH 5
Bersifat asam
3.
Klorida
Ditetesi larutan AgNo3, lalu diamati perubahan warnanya
Putih susu/putih pekat
Mengandung klorida, terdapat endapan
4.
Glukosa
Ditetesi larutan Benedict (larutan Fehling A dan Fehling B), lalu dipanaskan dengan pembakar spiritus. Amati perubahan warnanya
Hijau tua
Mengandung glukosa
5.
Protein
Ditetesi dengan larutan biuret, lalu amati perubahan warnanya
Biru kehijauan
Tidak mengandung protein




V.     EVALUASI

1.     Mengapa urine berbau menyengat? Jelaskan!
Jawab :
Karena urine mengandung asam dan zat-zat lain yang berupa sisa-sisa metabolisme dalam tubuh, oleh karena itu urine pasti berbau. Itu disebabkan karena urin tersier (urin yang dikeluarkan setelah melalui proses filtrasi dan reabsorpsi di ginjal) mengandung:
o   Urea
o   Garam-garam
o   Mineral
o   Vitamin
o   Air
o   Amoniak
o   Kreatinin
o   Natrium
o   Urobilin (zat pewarna urin)

Penyebab urin berbau pesing karena ada amoniak serta kreatinin (zat yg mengandung kapur) sehingga membuat urin berbau pesing. Urin mengandung urea yang bila dihidrolisis (di laboratorium) atau terhidrolisis (di kamar mandi) akan terurai menjadi amonia.

CO(NH2)2 + H2O -> CO2 + 2NH3

Jadi pada dasarnya urea, CO(NH2)2 yang terkandung dalam urin terurai menjadi amonia, NH3 jika ada air, H2O. Pemanasan akan mempercepat reaksi ini. \

Namun kurangnya minum dan dehidrasi adalah penyebab paling umum untuk bau urine yang menyengat. Adapun factor lain yang menyebabkan urin berbau menyengat adalah :
a.       Infeksi saluran kemih, alasan lain urine berbau tak sedap adalah infeksi saluran kemih. Setiap wanita mengalami infeksi saluran kemih setidaknya sekali seumur hidup. Kondisi ini cukup mudah didiagnosa dan diobati.
b.      Infeksi vagina, infeksi vagina juga bisa menjadi penyebab bau menyengat pada urine. Sebenarnya bau yang tidak sedap tersebut berasal dari vagina. Jadi seringkali urine yang berbau tidak sedap disertai dengan rasa terbakar dan gatal pada vagina.
c.    Obat atau makanan, kadang-kadang makanan atau obat-obatan tertentu bertanggung jawab untuk bau urine yang tidak sedap. Misalnya, asparagus, jengkol atau petai adalah salah satu makanan yang menyebabkan bau busuk pada urin

2.     Bagaimana kadar keasaman urine? Jelaskan!
Jawab :
Kadar keasaman urine bisa dilihat/diukur dengan pH urin tersebut. Urine normal berkisar antara 4,8 – 7,5. Urine akan menjadi lebih asam jika mengkonsumsi banyak protein, dan urine akan menjadi lebih basa jika mengkonsumsi banyak sayuran.

3.     Mengapa terdapat endapan putih pada urine yang diuji? Jelaskan!
Jawab :
komposisi urin.jpgKarena pada saat urine diteteskan AgNO3. Urine yang semula berwarna kuning berubah menjadi putih keruh. Pada dasar tabung reaksi juga terdapat endapan tipis. Sehingga dapat dikatakan urine mengandung klorida dan masih termasuk dalam jumlah normal. Persamaan reaksinya :
2NaCl + AgNO3          Na2NO3 + AgCl2








4.      Apakah urine yang kamu uji terdapat indikasi penyakit? Jelaskan!
Jawab :
Iya, tapi lemah.
Pada hasil penelitian yang telah kami lakukan dalam uji kandungan protein dalam urine, tidak terdapat/ditemukan kandungan protein. Urine yang ditetesi biuret tidak mengalami perubahan warna menjadi ungu, melainkan biru kehijauan. Hal itu mengindikasikan bahwa tidak terdapat protein pada urine yang mengindikasikan penyakit.

Namun dalam uji kandungan glukosa pada urine, urine yang ditetesi Larutan Benedict (Larutan Fehling A dan Fehling B) berubah warna menjadi hijau. Perubahan urine menjadi warna hijau menunjukkan adanya kadar glukosa pada urine yang rendah. Hal itu menunjukkan bahwa urine yang kita uji dapat terindikasi penyakit diabetes melitus tetapi kemungkinan sangat lemah.

5.     Bila urine terdapat protein, ada indikasi penyakit apa? Jelaskan!
Jawab :
Bila terdapat protein pada urine, maka dapat diindikasi penyakit albuminuria, yakni penyakit yang ditandai dengan adanya albumin (protein) dalam urine yang disebabkan gangguan dalam proses filtrasi protein (albumin) oleh ginjal.

Namun berdasarkan hasil penelitian, diperoleh hasil bahwa sampel urine tidak mengandung protein. Hal ini terbukti ketika mengamati warna urin setelah ditetesi biuret. Sampel tidak menunjukan perubahan warna menjadi ungu. Hal ini menunjukan bahwa tidak terdapat kerusakan glomerulus pada ginjal pemilik sampel tersebut.

6.     Bila urine terdapat glukosa, ada indikasi penyakit apa? Jelaskan!
Jawab :
 Kandungan glukosa dalam urine menunjukkan bahawa ada penyakit diabetes militus (kencing manis). Urin seorang penderita diabetes akan mengandung gula yang tidak akan ditemukan dalam urine orang yang sehat. Terdapatnya glukosa dalam urine tersebut menyebabkan menurunnya hormon insulin yang dihasilkan oleh prankeas. Menurunnya hormon insulin menyebab terganggunya proses perombakan glikogen menjadi glukosa dan reabsorpsi glukosa dalam glomelurus.
Rounded Rectangle: Interpretasi hasil:
Negative		: Warna biru
Positif lemah (+) 	: Kekeruhan hijau,indikasi 0,1-0,25% glukosa
Positif sedang (++) 	: Kekeruhan kuning,jingga,indikasi 0,5-1,5glukosa
Positif kuat(+++)   	: Kekeruhan jingga tua-merah,indikasi 1,5-2% glukosa
 









7.     Mengapa bila suhu dingin kita lebih banyak kencing, dan bila suhu panas banyak keringat? Jelaskan!
Jawab :
Pada saat udara panas, suhu tubuh tentunya meningkat. Untuk menurunkan suhu tubuh, maka tubuh mengeluarkan air lewat pori-pori kulit beserta panas tubuh (keringat) untuk menurunkan suhu tubuh sekaligus mengeluarkan zat-zat sisa. Karena pengeluaran air lewat keringat, kita jadi tidak udah buang air kecil untuk mengeluarkannya.

Pada saat udara dingin, pori-pori kulit menutup sehingga panas tubuh tidak keluar. Maka pengeluaran air pun lebih banyak dilakukan lewat buang air kecil. Makanya jumlah air kencing kita lebih banyak daripada biasanya atau buang air lebih sering

8.     Jelaskan hubungan hormon ADH dengan penyakit poliurea dan oligourea!
Jawab :
Hormon ADH berpengaruh pada jumlah volume urin yang dikeluarkan. Jika hormon ADH dalam tubuh sedikit maka jumlah volume urin yang dikeluarkan sedikit sehingga menimbulkan penyakit oliguria. Sedangkan jika jumlah hormon ADH dalam tubuh banyak maka jumlah volume urin banyak, jika terlalu banyak maka menimbulkan penyakit poliuria.
9.     Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi urine!
Jawab :
a.       Hormon Antidiuretik (ADH))
Hormon ini dihsilkan oleh kelenjar hipofisis bagian belakang. Jika darah sedikit mengandung air, maka ADH akan banyak disekresikan ke dalam ginjal, akibatnya penyerapan air meningkat sehingga urin yang terjadi pekat dan jumlahnya sedikit.

Sebaliknya, apabila darah banyak mengandung air, maka ADH yang disekresikan kedalam ginjal berkurang, akibatnya penyerapan air berkurang pula, sehingga urin yang terjadi akan encer dan jumlah banyak.


b.      Jumlah air yang diminum
Jumlah air yang diminum tentu akan mempengaruhi konsentrasi air dalam darah. Jika kita meminum banyak air, konsentrasi air dalam darah menjadi tinggi, dan konsentrasi protein dalam darah menurun, sehingga filtrasi menjadi berkurang.

Selain itu, keadaan seperti ini menyebabkan darah lebih encer, sehingga sekresi ADH akan berkurang. Menurunnya filtrasi dan berkurangnya ADH akan menyebabkan menurunnya penyerapan air, sehingga urin yang dihasilkan akan meningkat damn encer.


c.       Jumlah garam yang dikeluarkan dari darah
Supaya tekanan osmotik tetap, semakiin banyak konsumsi garam  maka pengeluaran urin semakin banyak.


d.      Hormon Insulin
Hormon insulin adalah hormon yang dikeluarkan oleh pulau Langerhans dalam pangkreas. Hormon insulin berfungsi mengatur gula dalam darah. Penderita kencing manis (diabetes melitus) memiliki konsentrasi hormon insulin yang rendah, sehingga kadar gula dalam darah akan tinggi. Akibat dari keadaan tersebut adalah terjadi gangguan reabsorpsi di dalam tubulus distal, sehingga dalam urin masih terdapat glukosa.


e.       Suhu Lingkungan
Ketika suhu sekitar dingin, maka tubuh akan berusaha untuk menjaga suhunya dengan mengurangi jumlah darah yang mengalir ke kulit sehingga darah akan lebih banyak yang menuju organ tubuh, diantaranya ginjal. apabila darah yang menuju ginjal jumlahnya semakin banyak, maka pengeluaran air kencingpun banyak.


f.       Gejolak emosi dan stress
Jika seseorang mengalami stress, biasanya tekanan darahnya akan meningkatsehingga banyak darah yang menuju ginjal. Selain itu, pada saat orang berada di dalam kondisi emosi, maka kandung kemih akan kontraksi. Dengan demikian, maka timbullah hasrat ingin buang air kecil.


g.      Minuman alkohol dan kafein
Alkohol dapat menghambat pembentukan hormon antidiuretika. Coba ingat kembali fungsi hormon ini. Seseorang yang banyak minum alkohol dan kafein, maka jumlah air kencingnya akan meningkat.










VI.  KESIMPULAN
1.     Urine berbau menyengat (pesing) karena ada amoniak serta kreatinin (zat yg mengandung kapur) sehingga membuat urin berbau pesing. Urin mengandung urea yang bila dihidrolisis (di lab) atau terhidrolisis (di kamar mandi) akan terurai menjadi amonia.

      CO(NH2)2 + H2O -> CO2 + 2NH3

2.     Kadar keasaman urin bisa dilihat/diukur dengan pH urin tersebut. Urin normal berkisar antara 4,8 – 7,5.

3.     Jika urine diteteskan AgNO3. Urin yang semula berwarna kuning berubah menjadi putih keruh serta terdapat endapan tipis. Sehingga dapat dikatakan urin tersebut mengandung klorida dan masih termasuk dalam jumlah normal.

4.     Adanya kandungan protein dalam urine menunjukkan bahwa adanya indikasi penyakit albuminuria, yakni penyakit yang ditandai dengan adanya album (protein) dalam urine yang disebabkan gangguan dalam proses filtrasi protein (albumin) oleh ginjal.

5.     Adanya kandungan glukosa dalam urine menunjukkan bahwa adanya indikasi penyakit diabetes militus (kencing manis).

6.     Pada saat udara panas, suhu tubuh tentunya meningkat. Untuk menurunkan suhu tubuh, maka tubuh mengeluarkan air lewat pori-pori kulit beserta panas tubuh (keringat) untuk menurunkan suhu tubuh sekaligus mengeluarkan zat-zat sisa. Sedangkan pada saat udara dingin, pori-pori kulit menutup sehingga panas tubuh tidak keluar. Maka pengeluaran air pun lebih banyak dilakukan lewat buang air kecil. Makanya jumlah air kencing kita lebih banyak dari pada biasanya atau buang air lebih sering.
7.     Hormon ADH berpengaruh pada jumlah volume urin yang dikeluarkan. Jika hormon ADH dalam tubuh sedikit maka jumlah volume urin yang dikeluarkan sedikit sehingga menimbulkan penyakit oliguria. Sedangkan jika jumlah hormon ADH dalam tubuh banyak maka jumlah volume urin banyak, jika terlalu banyak maka menimbulkan penyakit poliuria.

8.     Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi produksi urine adalah hormon antidiuretik (ADH)), jumlah air yang diminum, jumlah garam yang dikeluarkan dari darah, hormon insulin, suhu lingkungan, gejolak emosi dan stress, dan minuman alkohol dan kafein.

























                                           


                                           







 

                                                                                       










Tidak ada komentar:

Posting Komentar